Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Pengembangan PAKEM di Madiun

Ada sebagian orang beranggapan pramuka adalah kegiatan yang tidak ada artinya, ternyata itu sangat keliru. SDN 01-02 Klegen, Kota Madiun, telah melakukan kegiatan tersebut dan para siswanya lebih bersemangat untuk belajar seperti PAKEM.

Tiga minggu sebelum kegiatan dilaksanakan, fasilitator/guru (S. Hariyadi, S.Pd) bersama para guru dan atas pengarahan dari Bp.Drs.Mudjijono dan Ibu Siti Komsiatun,S.Pd sebagai Kepala sekolah merencanakan kegiatan pembelajaran secara tematik dalam satu blok waktu.

Kompetensi dasar dalam masing-masing mata pelajaran: Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Agaman, dan Olah Raga dipadukan secara tematik dalam satu kegiatan. Akhirnya disepakati kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26 Nopember 2005, bertempat di Wana Wisata Buper Kresek, lahan KPH Madiun.

SDN 01-02 Klegen, Kota Madiun

Pada tanggal 26 Nopember 2005, SDN 01-02 Klegen, Kelas 6, Kota Madiun, mengadakan kegiatan pramuka ke Wana Wisata Buper Kresek, lahan KPH Madiun untuk belajar tentang arti hutan sebagai sumber kehidupan.

Siswa kelas 6 SDN 01-02 Klegen, dibagi dalam kelompok-kelompok. Ketua kelompok menerima penjelasan tentang tugas kelompoknya dari fasilitator/guru. Dengan pembelajaran kooperatif, ketua kelompok membagi tugas tersebut ke anggota kelompoknya. Ini dilakukan pada saat akan berangkat menuju Wana Wisata dengan naik truk.


Kegiatan siswa SDN 01-02 Klegen pada saat kunjungan ke Wana Wisata Buper Kresek

Setibanya di lokasi, secara berkelompok siswa melakukan penelitian tentang hutan dan berbagai aspeknya, untuk masing-masing mata pelajaran (IPA, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Agama, Olah Raga, dan Kepramukaan).

  1. IPA: Mengidentifikasi tanaman, antara lain bentuk daun, akar, batang, nama tanaman dan cara berkembang biak serta manfaatnya. Dengan pembelajaran seperti ini siswa merasakan lebih mudah memahami dan mengerti manfaat belajar.

  2. Matematika: Pengukuran panjang dan lebar daun, keliling dan diameter pohon jati yang umurnya ± 90 tahun. Melakukan pengukuran jarak antar tanaman/pohon pelindung di hutan dan menghitung perkiraan banyaknya tanaman yang ada pada area tersebut.

  3. IPS: Menyebutkan manfaat pohon jati dari segi ekonomis dan penghijauan serta cara melestarikannya. Banyak pohon yang ada dikaitkan/dihubungkan dengan pelesatarian tanah dan air bagi kehidupan masyarakat sekitar hutan dan orang-orang kota.

  4. Bahasa Indonesia: Mendeskripsikan keadaan alam di sekitar Wana Wisata

  5. Agama: Mengungkapkan nilai-nilai kebesaran cipta Tuhan Yang Maha Esa bagi makhluk hidup.

  6. Olah Raga: Uji ketahanan fisik dan emosional

  7. Kepramukaan: Membangun kerja kelompok, ketrampilan, dan kemandirian.

las dan memahami arti hutan sebagai sumber kehidupan, SDN 01-02 Klege bekerja sama dengan pihak Perhutani KPH Madiun, dengan mendatangkan Nara Sumber untuk menjelaskan tentang masalah hutan (pelajaran IPS dan IPA). Dalam kegiatan ini siswa sangat antusias untuk bertanya dan berdiskusi tentang pemanfaatan dan pelestarian hutan dan mereka cukup puas.

Para siswa mencatat data-data tersebut dan didiskusikan untuk dijadikan laporan penelitian. Semua Ketua Kelompok melaporkan hasil kegiatannya kepada guru/fasilitator, kemudian guru/fasilitator memberikan saran agar hasil yang belum baik/benar untuk disempurnakan kelompok nya masing-masing.

Oleh Bpk. Slamat Hariyadi, Guru SD 02
Klegen, Madiun

BANYUMAS: Sedikit Dana, Banyak Usaha

Di sebelah kanan adalah gambar Ibu Subartuti, Guru SDN Pandansari, Banyumas bersama siswanya. Tekad dan semangatnya dalam mendidik siswanya untuk lebih maju, perlu ditiru. Dengan keterbatasan sekolah, Ibu Subartuti dan teman-teman guru di SDN Pandansari giat menerapkan PAKEM. Karena kondisi keuangan sekolah tidak menunjang untuk membeli dan membuat alat-alat peraga, siswa-siswa menggunakan barang-barang bekas sebagai alat peraga. Salah satu contohnya, Ibu Subartuti memanfaatkan gelas bekas air mineral sebagai alat peraga. Guru kelas satu ini menjadikan gelas bekas sebagai alat hitung. Hasilnya, siswa lebih cepat menangkap apa yang disampaikan guru.

Mereka berlomba-lomba menjawab pertanyaan gurunya. Hal ini membuktikan bahwa PAKEM tidak tergantung pada dana yang besar, tetapi bagaimana usaha kita mensiasati kekurangan untuk mendapatkan yang lebih baik.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID