|
Geliat dari Daerah Binaan...
|
MAGETAN: Kelompok Profesi Ikut Andil Dalam Pelatihan
Pelatihan MBS dan PSM berlangsung pada tanggal 7 Maret 2006 di Kecamatan Magetan tepatnya di aula cabang dinas pendidikan dan 8 Maret di Kecamatan Maospati di gedung KKG SDN Malang. Kepala Dinas Pendidikan Magetan, Bapak Drs. Soetikno, MM yang membuka pelatihan di dua tempat tersebut mengharapkan peserta dapat menambah wawasan dan membagi pengetahuan untuk diterapkan di sekolah masing-masing.
Pada kegiatan ini, kelompok profesi dalam paguyuban kelas ikut andil sebagai nara sumber. Keikutsertaan kelompok profesi ini sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Magetan. Multi profesi dalam kelompok profesi yang terlibat berasal dari kalangan dokter, pengacara, dan pendidik.
|
(Kiri ke kanan) Bapak Yusak, SH., selaku pengacara, Ibu dr. Dyana Etikawati selaku dokter saat memberikan materi, dan Drs. Suhardo, guru.
|
Selayang Pandang Aktifitas Paguyuban Kelas
Kerjasama antara wali kelas, orang tua dan kelompok profesi nampak harmonis dan perlu terus dibina. Peranan elemen-elemen tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pendidikan yang ideal. Dengan demikian sumber belajar bukan hanya dari guru dan buku tapi bisa juga dari kelompok profesi sebagai nara sumber yang akan memperkaya pengetahuan peserta didik.
Atas: (Kiri ke kanan) Ibu Sri Winarsih selaku wali kelas 1 SDN Magetan 1 sekaligus sebagai fasilitator daerah, Orangtua siswa juga tak mau ketinggalan dalam pendidikan paradigma baru, dr. Dyana Etikawati sebagai salah satu pengurus paguyuban kelas 1 sedang asyik membantu menata pajangan kelas.
Atas: Berbagai aktivitas dilakukan oleh paguyuban kelas. Beragam ide yang terinspirasi dari kegiatan-kegiatan MBE dituangkan dalam kerja bakti di SDN Magetan 1. Hal itu membuktikan dukungan positif terhadap pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak di kelas.
- Pengaturan ruangan beserta isinya
- Pemasangan gambar-gambar sebagai media pendidikan
- Pembuatan tempat pajangan dan rak buku perpustakaan kelas
|
Penggantian papan tulis menjadi white board
Pembuatan piket paguyuban di kelas
Pembenahan portofolio sebagai dokumen hasil belajar anak.
Kecamatan Magetan Jadi Mitra Media Massa
Untuk membangun motivasi sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Magetan khususnya sekolah binaan MBE agar tetap konsisten meningkatkan mutu pendidikan, Bapak Drs. Siran, MM selaku kepala cabang dinas pendidikan membangun mitra dengan media massa.
Dalam setiap terbitan, minimal ada 1 (satu) sekolah binaan MBE yang diekspos mengenai profil sekolah dan kelebihan yang dimiliki sekolah tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk bisa saling membagi pengalaman dan mengisi kekurangan di masing-masing sekolah dan juga sekaligus dilakukan sebagai sosialisasi program MBE di tingkat kecamatan, kabupaten dan daerah lain.
PACITAN: SDN Ploso 2 Kebanjiran Kunjungan
Sekolah MBE ....begitulah seluruh guru-guru sekolah lain berkomentar singkat tentang SDN Ploso 2. Walau di kecamatan kota tapi letaknya agak di pinggiran, dulu masuk kategori sekolah tertinggal. Namun hal itu tidak membuat kecil hati kepala sekolah dan guru-gurunya untuk maju. Justru sebutan itulah yang kemudian menjadikan semua komponen sekolah untuk introspeksi.
|
Atas: Joko Ismutarto, S.Pd, Kepala Sekolah SDN Ploso 2
Bawah: Suasana Pembelajaran PAKEM, Guru sedang memberikan intruksi untuk penugasan siswa.
|
Semenjak MBE digulirkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten, tekad ini semakin bulat. Pela-tihan demi pelatihan diikuti dengan tekun. Hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian adalah perbaikan mutu pembelajaran dan perbaikan manajemen.
Jika dulu pembelajaran lebih banyak guru ceramah dan anak mendengarkan, tidak demikian setelah mengikuti pelatihan PAKEM. Pembelajaran harus memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan, tidak sekedar memahami konsep. Baca senyap merupakan pembiasaan yang digalakkan, walau hanya 3 menit, tapi menjadi menu setiap hari.
Dilaksanakan setelah istirahat pertama. Suatu hari ada pengawas berkunjung ke sekolah dan saat itu sedang berlangsung baca senyap sehingga tidak dihiraukan. Sang pengawas pun bingung. Baru setelah dijelaskannya tentang aktifitas baca senyap untuk merangsang anak agar gemar membaca.
Ketika bel sebagai tanda baca senyap dimulai, anak-anak yang sedang olahraga pun berlarian untuk mendapatkan bahan bacaan. Sering anak-anak berlari menuju tembok yang penuh tempelan pajangan. Baca senyap tidak hanya berlaku pada siswa tetapi juga untuk semua guru serta kepala sekolah.
|