Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

PATI: Matematika dalam Sedotan di Kelas 1

Bu Solikhah Bu Solikhah guru Kelas 1 SD Tambahmulyo 02, Kecamatan Jakenan (foto kanan) berusaha memikirkan cara yang tepat dalam penyampaian Matematika, terutama berhitung sehingga disenangi oleh anak dan membuat anak lebih kreatif, serta menggunakan lingkungan sekitar yang sangat dikenali oleh siswa. Cara yang dilakukan adalah:

  1. Siswa mendengarkan penjelasan guru dalam melaksanakan tugas.

  2. Ketua kelompok maju mengambil sedotan (jumlah tidak dibatasi).

  3. Siswa menghitung jumlah sedotan yang telah diambil ketua kelompok.

  4. Siswa membuat penjumlahan dan pengurangan dengan hasil perhitungan sedotan yang diperoleh.

  5. Siswa membuat penjumlahan dan pengurangan dengan lambang bilangan sesuai yang sudah dilakukan.

  6. Perwakilan 3-4 siswa melaporkan hasil karyanya.

  7. Hasil karya siswa dipajangkan.

Buah Sebagai Sumber Energi Listrik

Buah yang memiliki zat asam, seperti tomat, asam, belimbing mampu menjadi media belajar materi sumber energi listrik. Media yang memanfaatkan buah-buahan dapat menarik per-hatian dan antusias tinggi siswa untuk mempelajari sumber energi listrik pada bidang studi sain.

Bahan untuk eksperimen berupa buah yang mengandung zat asam sebagai sumber energi listrik dan kawat tembaga dan potongan kecil aluminium yang dirangkai.

Media belajar tidak akan memberikan dampak positif jika tidak terintegrasi dengan tepat dalam pembelajaran. Tentu dengan memperhatikan teknik-teknik tertentu sehingga kualitas belajar siswa tidak hanya sebatas kaya pada aspek kognitif saja. Teknik yang divariasikan oleh Bpk Sukamto, S.Pd pada kegiatan belajar dengan memanfaatkan media buah sebagai sumber energi listrik yaitu sebagai berikut:

  1. Pemahaman materi awal (anak dikenalkan buah yang mengandung zat asam sebagai energi listrik)

  2. Anak mendiagnosa buah yang mengandung zat asam

  3. Anak melakukan eksperimen (lihat foto di atas). Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan menyusun buah secara paralel. Pada buah ditancapkan potongan kecil aluminium dan di atas aluminium terlilit kawat tembaga dan pada ujung kawat tembaga terdapat dop kecil. Dop ini berfungsi untuk mendeteksi ada/tidaknya energi yang dihasilkan oleh buah tomat, jeruk, dan asam. Ketika prosedur eksperimen dilaksanakan, diperoleh hasil bahwa dop itu menyala.

  4. Anak mendiskusikan hasil eksperimen secara berkelompok.

  5. Anak menyimpulkan hasil eksperimen, bahwa buah yang mengandung zat asam mampu menjadi sumber energi listrik.

KEBUMEN: Dialog Interaktif di Radio Prima FM

Dalam mensosialisasikan programnya, MBE juga menggunakan media elektronik yang salah satunya dengan metode dialog interaktif secara langsung di stasiun radio yang dise-lenggarakan secara rutin oleh Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen (DPK) bekerjasama dengan Radio Prima FM.

Ibu Kresniwiyati dan Drs Agus Purwanto

Kiri: Ibu Kresniwiyati, narasumber PAKEM dalam dialog interaktif bersama DPK di Radio Prima FM Kebumen
Kanan: Drs Agus Purwanto, Ketua Dewan Pendidikan Kebumen

Topik utama acara tersebut adalah seputar pendidikan dengan berbagai masalahnya dan disiarkan pada setiap Selasa jam 20:00-21:00. Dalam acara tersebut para pendengar radio diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para narasumber melalui telepon.

Progam ini dipimpin oleh Drs. Agus Purwanto yang juga sebagai salah seorang guru di SMAN Gombong dan juga sebagai Ketua DPK. Salah seorang narasumber dalam program tersebut adalah Ibu Kresniwiyati, Kepala SDN 2 Wonokriyo, Gombong yang juga salah seorang fasilitator MBE di Kab. Kebumen.

PROBOLINGGO: Model Pendampingan Inovatif

Kondisi sekolah binaan di Kab Probolinggo jauh berbeda dengan daerah lain mitra MBE. Dimana hanya dua sekolah binaan MBE di Kab Probolinggo yang memiliki fasilitator, sedangkan fasilitator lainnya berasal atau bertugas di luar kecamatan binaan.

Dengan kondisi seperti di atas, kab Probolinggo membuat pola pendampingan yang berbeda dengan umumnya daerah binaan MBE lainnya. Adapun pola yang dikembangkan sebagai berikut.

Sekolah binaan yang ada di suatu kecamatan memilih 10 guru (masing-masing 2 guru dari 1 sekolah) yang dikelompokkan dalam lima spesialisasi: Kelas awal, IPA, PS, BI dan Matematika.

Mereka secara khusus mendapatkan pendampingan oleh fasilitator untuk setiap spesialisasinya setiap 1 atau 2 minggu sekali. Pendampingan juga dilakukan untuk Kepala Sekolah dan pengawas.

Untuk 1 atau 2 minggu ke depan mereka melaksanakan hasil pendampingan di kelas masing masing dengan didampingi KS dan pengawas.

KS dan pengawas berkewajiban untuk menyusun laporan tertulis tentang perkembangan guru yang didampingi untuk dikoordinasikan dengan Cabang Dinas dan diteruskan ke dinas kabupaten sebagai bahan informasi dan evaluasi.

KS juga berkewajiban untuk menyusun program pengimbasan hasil pendamping an kepada guru lain di sekolahnya.

Dengan pola pendampingan yang melibatkan mulai dari guru sampai Dinas Pendidikan Kabupaten diharapkan perkembangan sekolah binaan dapat termonitor dengan baik. Pola ini juga dapat menjaga keberlanjutan/sustainability penerapan PAKEM di sekolah.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID