|
PATI: Review Meeting Bidang Keuangan
Dalam pelaksanaan bantuan teknis bidang keuangan pendidikan, MBE bersama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati melakukan Review Meeting khusus bidang keuangan pendidikan. Lokakarya dilaksanakan selama dua hari yaitu tanggal 8-9 Juni 2006, dengan peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah (20 orang), Pengawas TK/SD dan SMP (7 orang), Kacab Dinas Kecamatan (10 orang), Depag (2 orang), Dinas Pendidikan (8 orang), Dewan Pendidikan, BAPPEDA dan Bagian Keuangan Setda.
Pada hari pertama diselenggarakan diskusi dengan pejabat dari Dinas dan Pemeritah Kabupaten untuk menentukan topik yang akan dibahas di hari kedua serta reviu secara umum program MBE, baik kendala maupun keberhasilannya. Telah disepakati, ada dua hal yang akan dibahas pada hari kedua yaitu Unit Cost per siswa dan klasifikasi sekolah.
|
Kiri: Pengawas dan Kepala Sekolah menyusun Unit Cost dan Klasifikasi Sekolah
Kanan: Bpk Tulus (Dinas Pendidikan), Bpk Turi dan Ibu Jumisih (BAPPEDA), Bpk Alimin (Depag),
|
BANYUMAS: Komite Melongok ke Kelas
Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 3 April 2006 telah dilaksanakan Workshop Komite Sekolah seKecamatan Kebasen. Salah satu kegiatan pada acara ini adalah kunjungan kelas.
Komite Sekolah diajak langsung melihat kelas, bagaimana anak-anak mereka belajar, dan bagaimana cara Bapak/Ibu Guru mengajar.
Gambar di sebelah kanan menunjukkan beberapa anggota komite sekolah sedang mengunjungi kelas Ibu Margiyati, Guru Kelas 3 SDN Bentul, Kebasen.
Bapak Ratal (foto kanan), salah satu peserta workshop mengatakan, memang seyogyanya Komite meluangkan waktunya untuk mengunjungi sekolah. Sehingga Komite mengatahui perkembangannya. Komite tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga mitra warga sekolah. Bapak Ratal yang merupakan anggota Komite dari SDN 2 Kebasen juga menegaskan bahwa seharusnya kedisiplinan juga berlaku bagi Bapak/Ibu Guru di sekolah.
Sekolah tidak hanya menuntut siswanya untuk selalu datang tepat waktu, tetapi Bapak/Ibu Guru juga harus bisa menjadi contoh bagi siswanya dalam kedisiplinan. Bila perlu Guru/Kepala Sekolah datang lebih awal untuk menjemput siswanya masuk kelas. Beliau berpendapat bahwa memberikan contoh akan lebih efektif dari pada ceramah panjang lebar.
|
Kegiatan Liburan Menyongsong Tahun Ajaran Baru
Dengan dimotori fasilitator di Kecamatan Kebasen, pada tanggal 4-6 Juli 2006 dilaksanakan Workshop Penyusunan RIPS & RAPBS SD/MI se-UPK (Unit Pendidikan Kecamatan) Kebasen. Peserta meliputi Kepala Sekolah, Guru, dan wakil dari Komite Sekolah. Dengan kegiatan ini diharapkan seluruh SD/MI di Kecamatan Kebasen dapat menyusun RIPS & RAPBS untuk tahun ajaran 2006/2007. Peserta didampingi fasilitator sedang mendiskusikan apa dan bagaimana menyusun RIPS & RAPBS.
Kabupaten Blitar Menyusun RIPP
Tahun ini Kabupaten Blitar menyusun Rencana Induk Pengembangan Pendidikan (RIPP). Leading sector penyusunan RIPP ini adalah Bappeda dan Dinas Pendidikan. Cakupan RIPP tidak hanya pendidikan formal (sekolah) saja, tetapi juga pendidikan prasekolah, pendidikan usia dini (play group), taman kanak-kanak dan pondok pesantren.
Karena pendataan pendidikan sebagai acuan penyusunan RIPP belum lengkap, kegiatan penyusunan didahului dengan pendataan yang dilakukan oleh 330 mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang sedang melaksanakan KKN di Blitar selama dua bulan. Penyusunan RIPP dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Blitar bekerjasama dengan UM dan MBE.
Pertemuan awal dilakukan pada tanggal 6 Juni 2006 di Bappeda, dihadiri oleh Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Kantor Depag, Ketua dan anggota DPRD Komisi IV, Dewan Pendidikan, Ketua PGRI, LSM (foto atas). Wakil dari MBE adalah Bpk Toto Purwanto dan Bpk Abdurrahman Asari, sedangkan dari UM Bpk Suripan dan Bpk Joko Suwanto.
BATU: Pembelajaran Kelas Rangkap di Sekolah Kecil
Dinas P dan K Kota Batu telah memberlakukan pembelajaran kelas rangkap di SDN Gunungsari 4 Kecamatan Bumiaji. SDN Gunungsari 4 adalah sekolah kecil yang terletak di daerah terpencil (Gambar 1). Rata-rata jumlah siswa per kelas adalah 9 anak (Tabel 1 pada halaman berikut). Sekolah ini hanya memiliki 2 gedung yang terdiri dari 1 gedung (3 ruang) untuk PBM dan 1 gedung untuk ruang KS dan TU, 3 guru kelas, 2 guru olah raga, 1 guru agama dan 1 KS. Populasi masyarakat di daerah ini relatif kecil. Bahkan kabarnya populasi masyarakat di daerah tersebut lebih kecil daripada populasi sapi perahnya.
|