Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

MAGETAN: Kreatifitas Pemanfaatan Media Pembelajaran
(Miniatur Sumber Energi Tatasurya dan Buah Sumber Energi Listrik)

Faktor pendukung kualitas pembelajaran tidak terfokus pada guru, buku, dan kurikulum tetapi juga perlu memperhatikan media pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran yang tepat untuk materi yang disajikan di kelas akan berdampak positif dalam mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Bapak Sukamto, S.Pd. adalah guru sain di SD Negeri Magetan 4. Beberapa media belajar hasil inovasinya membuat siswa antusias dan tertarik dalam belajar sain. Contoh media yang telah dikembangkan adalah payung energi tata surya dan buah tomat, asam, dan belimbing sebagai sumber energi listrik.

Payung energi tatasurya dimanfaatkan untuk menjelaskan bahwa matahari sebagai bagian dari tatasurya memiliki energi panas yang luar biasa. Media ini terangkai atas aluminium berbentuk parabola dan kawat tembaga sebagai penyangga secara horisontal.

Pada kegiatan eksperimen yang dilakukan, siswa mengukur temperatur suhu dalam pantulan payung tatasurya dan meletakkan kertas dalam media tersebut. Ketika kertas diletakkan di titik tengah maka kertas tersebut terbakar. Berikut penjelasan dalam gambar.

Atas: Tanpa mengenal lelah, siswa mengamati terbakarnya kertas ketika diletakkan di titik tengah payung tatasurya dan mencatat hasil pengamatan yang sedang dilakukan.
Bawah: Dalam eksperimen yang dilakukan, siswa penuh perhatian mengobservasi temperatur suhu melalui termometer yang diletakkan di titik tengah payung tata surya.


KABUPATEN SEMARANG Mengadakan Pameran Pendidikan

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Pemda Kabupaten Semarang melaksanakan pameran pendidikan, yang dilaksanakan pada tanggal 7 - 14 Mei 2006 dan dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Semarang. Dalam pameran pendidikan ini, MBE memperoleh kehormatan untuk mengikuti dengan disediakan tempat pameran yang cukup luas. Selain MBE juga terdapat beberapa lembaga (stakeholder) pendidikan lain.

Atas: Pengunjung (siswa) sangat tertarik mendapatkan "pelajaran" baru.
Kanan: Dibawah bimbinngan fasilitator, pengunjung dapat melakukan praktik sederhana.

Pameran mempunyai tema tentang alat peraga pendidikan. Sebagian besar peserta pameran memajangkan peralatan laboratorium yang mereka miliki, tetapi dalam stand pameran MBE Kabupaten Semarang memajangkan berbagai hasil karya anak dan beberapa sumber belajar lain yang berasal dari lingkungan sekitar. Selama pameran selalu ditunggui dua fasilitator MBE, sehingga apabila ada beberapa pertanyaan, dapat dijelaskan dengan baik.

Pengunjung pameran terutama guru sangat tertarik dengan model pembelajaran yang telah diterapkan di sekolah binaan dan mereka mengharapkan dapat ikut peltihan PAKEM. Dalam pameran juga disediakan beberapa alat percobaan sederhana yang dapat dipraktikkan oleh pengunjung.

SUKOHARJO: Gempa Tektonik, Sekolah Digabung

Dalam melaksanakan monitoring Program MBE di Sukoharjo pada tanggal 26-27 Juni 2006, Pak Bob Cannon dan Pak Toto Purwanto menyempatkan berkunjung ke daerah yang terkena gempa. Sebagaimana diketahui, gempa tektonik tanggal 24 Juni 2006 yang berpusat di Bantul DIY, tidak hanya mengakibatkan kerusakan berat di DIY dan Klaten, tetapi juga di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan kedua daerah tersebut, salah satunya Kabupaten Sukoharjo.

Pak Bob Cannon dan Pak Toto Purwanto

Atas: Pak Bob Cannon dan Pak Toto Purwanto berbincang-bincang dengan Pak Sarjito, Pengawas TK, SD Kecamatan Weru (paling kiri) dan Pak Bambang Kasi PMD Kecamatan Weru (kedua dari kiri) saat berkunjung ke SD Tegalsari 3 yang terkena gempa.
Bawah: Sekolah darurat di salah satu SD yang akan digabung.


Sekolah darurat

Di Sukoharjo ada dua kecamatan yang mengalami kerusakan cukup parah diterjang gempa, yaitu Kecamatan Weru, dan Bulu. Di dua kecamatan tersebut, di samping menghancurkan rumah-rumah warga, gempa juga menghancurkan banyak sekolah, terutama SD.

Di Kecamatan Weru ada 17 SD rusak berat dari 24 SD yang ada, di Kecamatan Bulu terdapat 5 SD rusak berat dari 36 SD. Untuk merehabilitasi sekolah-sekolah tersebut, perlu biaya yang sangat besar, padahal tidak semua sekolah yang rusak tersebut cukup produktif, sedangkan dana untuk rehabilitasi jelas sangat terbatas. Salah satu solusinya adalah dengan menggabung beberapa sekolah menjadi satu sekolah.


RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID