Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Yang Unik dari Pengelolaan SD di Madiun

Hari selasa tanggal 7 Desember 2004, penulis mengadakan kunjungan ke beberapa sekolah di kota Madiun guna mengamati praktek mengajar yang dilakukan oleh para guru SD-MI dan SMP-MTs yang sedang berlatih PAKEM. Penulis yang ditemani oleh konsultan asing Pak Robert Cannon (dari Australia) dan fasilitator kota Madiun, Pak Toni Indriyanto sempat mengunjungi 5 (lima) sekolah yaitu SMP Negeri 11, SMP Negeri 1, SD Kartoharjo 04, SD Pandean 01, dan MI Islamiyah 3.

Kantor Kepala Sekolah
Di SD Kartoharjo 04 dan SD Pandean 01, penulis terkesima
dengan kebijakan manajemen yang menurut penulis lumayan agak "aneh". SD Karto-
harjo 04 ternyata berada dalam satu kompleks dengan SD Kartoharjo 01. Tidak ada sekat yang memisahkan kedua SD. Bahkan kantor kedua kepala sekolah berada dalam satu ruangan (foto sebelah kanan), dan komite sekolahnya pun juga satu.

Semua fasilitas yang ada di kedua sekolah dimanfaatkan secara bersama-sama. Menurut para kepala sekolah tersebut, mereka hanya berbeda dalam pengurusan pangkat, pembayaran gaji dan urusan administratif lainnya. Hal yang sama juga terjadi di SD Pandean 01 dan 02. Bahkan, luas lahan yang ditempati oleh kedua SD ini lebih kecil dari SD Kartoharjo 04 dan 01.

Penulis tidak mengetahui secara persis alasan didiamkannya kejadian ini terus berlangsung oleh pemerintah daerah. Dalam benak penulis terbetik suatu kesan "betapa mubadzirnya" pengelolaan semacam ini. Jika kedua sekolah bisa dikelola oleh satu orang kepala saja, mengapa harus dikelola oleh dua orang.

Akan lebih enak dan lebih bermanfaat jika kedua sekolah tersebut digabung dan dilebur menjadi satu sekolah dengan satu kepala sekolah saja. Satu orang ditetapkan sebagai kepala sekolah hasil penggabungan dan kepala sekolah yang lain mungkin dipromosikan, atau mendapat tugas lain yang lebih membahagiakan.

Menurut hemat penulis, tampaknya hanya diperlukan sedikit keberanian serta kemauan pihak pemerintah daerah saja untuk menjalankan manajemen yang lebih baik. Kepala Sekolah sebenarnya memiliki semboyan "sami'na wa atho'na' atau "siap menjalankan perintah." Masing-masing kepala sekolah menyatakan sanggup mengelola dua sekolah sekaligus sama baiknya seperti yang berlangsung selama ini.

Orang Tua Murid di Talun Membantu di Sekolah

Pelaksanaan program pelatihan kepada masyarakat (termasuk komite sekolah) pada tanggal 25 sampai 30 September 2004 memberikan dampak positif bagi sekolah. Dukungan ini dulu pada umumnya hanya terbatas pada pemberian dana ke sekolah, tetapi lambat laun masyarakat lebih bertanggung jawab dalam memperbaiki dan merawat gedung sekolah.

Kiri: Orang Tua Murid sedang membantu siswa di SD Kendalrejo Kec Talun,
Kanan: Orang tua murid sedang membantu perbaikan sarana belajar di SD Kendalrejo Kec Talun.

Dukungan ini dulu pada umumnya hanya terbatas pada pemberian dana ke sekolah, tetapi lambat laun masyarakat lebih bertanggung jawab dalam memperbaiki dan merawat gedung sekolah. Di SD Kendalrejo Kecamatan Talun, Blitar orang tua pro aktif untuk membantu sekolah dan begitu juga dengan murid-murid yang bahu membahu membenahi kelasnya.

Hal ini didukung pula oleh program dari kepala sekolah Bapak Syarir untuk menanam mangga di belakang sekolah dengan memanfaatkan beberapa lahan yang ada. Beberapa tahun ke depan sekolah diharapkan benar - benar mandiri.

Anak Kelas 6 Sudah Pintar Berbahasa Inggris

Meskipun di gunung agak jauh dari Kota Batu siswa SD Tulungrejo 4 sudah pintar menulis dalam Bahasa Inggris. Di bawah ada tulisan Ayu Nurami tentang kegemaran yang disenangi dia sendiri dan temannya.

Tulisan Ayu Nurami

Pembelajaran Menyenangkan
Oleh : Bambang Ari Sugianto, Guru SMPN 14 Madiun,
Fasilitator MBE Bahasa Inggris


Bambang Ari Sugianto Pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) diharapkan dapat dilaksanakan pada setiap proses pembelajaran di kelas. Dengan suasana belajar yang menyenangkan para siswa diyakini akan dapat belajar secara lebih optimal. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Holt (1972), yakni :

" ...that children are by nature smart, energetic, curious, eager to learn, and good at learning; that they do not need to be bribed and bulled to learn; that they learn best when they are happy, active, involved and interested in what that they are doing; that they learn least, or not at all, when they are bored, threatened, humuliated, frightened".

Pertanyaannya kemudian adalah apakah pembelajaran yang menyenangkan itu? Apakah pembelajaran yang menyenangkan berarti harus tertawa hahahihi, berlucu-lucu, bernyanyi-nyanyi, bertepuk-tepuk hura-hura? Kalau memang demikian, apakah sebagian besar, atau bahkan semua siswa menyukai kegiatan-kegiatan tersebut, atau, apakah setiap guru mampu melucu, bernyanyi atau menciptakan pemecah kebekuan (ice-breaker)? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu saya kemukakan karena saya melihat telah terjadi kecenderungan oleh banyak guru untuk menterjemahkan pembelajaran yang menyenangkan ke arah itu.

Kalau demikian adanya maka kelas akan menjadi riuh rendah sementara efektifitasnya masih perlu dipertanyakan. Menurut hemat saya pembelajaran yang menyenangkan berarti siswa asyik terlibat dalam proses pembelajaran karena penugasan yang diberikan guru menantang, sesuai kebutuhannya, serta berada dalam dunianya. Di lain pihak siswa merasa nyaman karena tidak pernah dimarahi atau dicemooh ketika membuat kesalahan sehingga berani berbeda dan tidak takut membuat kesalahan.

Pendeknya, pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bebas dari tekanan (stress-free), menantang, dan bermakna bagi siswa. Dan itu tidak sama dengan hura-hura. Bagaimana pendapat anda?

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID