|
Mengefektifkan Pendampingan
Oleh Bambang Ari Sugianto, Fasilitator Bahasa Inggris, Madiun
Keberhasilan program MBE dalam pembelajaran PAKEM salah satunya ditentukan oleh efektifitas pendampingan yang dilakukan setelah pelatihan. Pendampingan yang terus-menerus dan intensif akan memungkinkan teratasinya kendala-kendala yang menghambat terlaksananya program dimaksud. Sebaliknya, tanpa pendampingan yang berkala apa yang disampaikan di setiap pelatihan bisa jadi akan menguap tak berbekas.
Salah satu model pendampingan yang coba diterapkan di Kota Madiun adalah dengan terlebih dahulu mengumpulkan para guru dari sekolah binaan dengan mengambil format pertemuan MGMP. Setelah berkumpul sesuai dengan mata pelajaran masing-masing dengan dipandu fasilitator mata pelajaran, mereka berdiskusi merancang rencana pembelajaran (RP) untuk empat sampai lima kali pertemuan ke depan. Setelah semua RP tersusun kegiatan tersebut diteruskan dengan menyusun lembar kerja (LK)-nya. Tentu saja ini tidak mungkin dapat diselesaikan dalam satu kali pertemuan saja. Butuh beberapa kali pertemuan, mungkin tiga sampai empat kali pertemuan.
Setelah beberapa RP dan LK tersebut dihasilkan, barulah dalam kurun waktu empat/lima pertemuan ke depan fasilitator datang ke sekolah-sekolah melakukan pendampingan dengan melihat para guru mempraktekkan apa yang telah disusun bersama sebelumnya. Dari sini diharapkan tercipta sebuah diskusi yang kondusif, mendalam dan bermanfaat.
Penulis yakin bahwa dengan model pendampingan seperti ini hubungan kesejawatan antara fasilitator dengan para guru binaannya lebih mudah terjalin. Suasana yang kurang kondusif akibat adanya penolakan para guru untuk didampingi bisa diminimalisir bahkan mungkin sekali dihilangkan. Tinggal masalahnya sekarang mencari waktu yang tepat dimana semua guru dari sekolah-sekolah binaan tersebut dapat hadir secara bersama.
|
Pembiasaan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
Oleh Sri Nawangsari Ida P Fasilitator Bahasa Indonesia, Madiun
Di mata pelajaran Bahasa Indonesia yang terdapat dalam kurikulum baru diamanahkan bahwa guru harus meningkatkan kompetensi 4 ketrampilan berbahasa dan bersastra.
|
Sebuah ketrampilan akan meningkat dengan baik jika sering berlatih atau melakukannya. Siswa akan terampil menulis jika sering menulis dan terampil berbicara apabila sering berbicara.
Faktor-faktor itulah yang mendorong saya selaku guru Bahasa Indonesia untuk mengajak siswa saya agar melakukan pembiasaan-pembiasaan guna meningkatkan kopetensi.
Pembiasaan di dalam proses pembelajaran
Kebiasaan menyunting tulisan sendiri atau tulisan teman: Dalam setiap rencana pembelajaran kegiatan ini diselipkan selama 5 – 10 menit. Tujuannya adalah agar siswa lebih teliti dalam menulis dan terbiasa kritis terhadap kesalahan tulisan sendiri atau tulisan teman sekaligus memberikan solusi pembetulan.
Presentasi dan berkomentar: Hal ini dikandung maksud agar siswa terbiasa menyimak dan berbicara/berkomentar secara spontan terhadap apa yang disimaknya, sekaligus memberikan solusi jika melakukan kritik. Pada tahap awal hal ini sulit dilakukan. Yang sering terjadi adalah siswa kurang mampu menyampaikan maksudnya dan diskusi berjalan tidak kondusif.
Apabila ini terjadi kami sarankan kegiatan presentasi dan berkomentar jangan dihentikan. Berikan arahan yang cukup agar siswa lebih terbiasa dengan hal itu. Apabila dianggap perlu, presentasi dilakukan lebih sering sehingga siswa jauh lebih terbiasa. Cobalah terus, siswa hanya perlu lebih terbiasa agar perilakunya menjadi lebih baik.
Pembiasaan di luar proses pembelajaran
Yang telah saya cobakan adalah yang biasa disebut sarapan pagi. Setiap hari saya mewajibkan siswa untuk membaca atau menyimak. Sumber bacaan dapat dipilih sendiri oleh siswa, dapat berupa artikel di majalah , koran, atau cerita yang mereka sukai. Menyimakpun dapat dilakukan dengan sumber yang mereka sukai, acara di radio maupun di telivisi.
Informasi yang telah mereka baca atau mereka dengar esok paginya (sebelum masuk jam pelajaran ) sekitar pukul 6.30 – 7.00 WIB mereka tulis kembali dengan kalimatnya sendiri di selembar kertas yang telah disediakan. Setelah dikoreksi tulisan-tulisan yang bagus dipajang di papan pajangan khusus untuk sarapan pagi agar dapat dibaca teman-temannya.
Pajangan ini akan diganti setiap minggu. Tulisan yang kurang baik saya kumpulkan dan dijilid menjadi buku-buku kecil dan diberi judul Sarapan Pagi. Program ini telah saya cobakan selama 3 bulan. Hasil yang teramati adalah siswa menjadi lebih asyik membaca, mungkin karena bahasa informasi yang digunakan adalah bahasa temannya sendiri sehingga lebih mudah dipahami.
Selamat Mencoba!
|