|
SMP - MTs se-Probolinggo Siap Mengajar Kurikulum 2004
Kerjasama RTI dengan Pemda Kabupaten Probolinggo dalam proyek MBE telah memasuki tahun ke dua. Salah satu bentuk bantuan teknis yang telah diberikan MBE adalah dengan menghadirkan fasilitator maupun konsultan dalam pelatihan. Seluruh kepala sekolah dan guru SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kabupaten Probolinggo telah memanfaatkan bantuan ini dalam menghadapi dan menyikapi perubahan paradigma pendidikan yang berkembang dengan pesat.
Mulai bulan Maret sampai dengan Mei 2005, Dinas Pendidikan Kab. Probolinggo telah melatih sebanyak 76 lembaga SMP Negeri/Swasta dan MTs, dengan jumlah guru dan kepala sekolah yang dilatih sebanyak 868 orang. Seluruh penyelenggaraan pelatihan didanai secara mandiri oleh lembaga yang bersangkutan atau secara kelompok. Total dana yang telah dikeluarkan oleh lembaga untuk melaksanakan pelatihan bernilai Rp 81.266.000,-.
|
1.: Guru-guru SMPN Gading I, II, III dan SMPN Besuk II dengan seksama melakukan pelatihan.
2.: Hasil pemetaan kurikulum yang dibukukan
Bawah: Bapak Asmad Hartono, pengawas Dikmenum merupakan pemrakarsa pelatihan sehingga seluruh kepala sekolah dan guru SMP Negeri/Swasta se kab. Probolinggo siap melaksanakan kurikulum 2004 dan pembelajaran PAKEM/CTL
|
Materi yang dilatihkan meliputi pengenalan dan telaah kurikulum 2004, pembuatan perencanaan pembelajaran jangka panjang, menengah, dan pendek serta melakukan praktik pembelajaran di kelas dengan metoda PAKEM/CTL. Hal menarik dari pelatihan untuk SMP Negeri /Swasta dan MTs ini adalah tambahan materi pelatihan yaitu program pembiasaan yang diikuti oleh kelompok kepala sekolah dan guru bimbingan dan konseling.
Bermain Peran dalam Pembelajaran Sains di Probolinggo
Dalam pembelajaran sains, kadang-kadang ada fenomena yang sulit untuk diamati, didengar, diraba, atau dirasakan secara langsung. Mengingat target yang menjadi prioritas dalam Kurikulum 2004 adalah kompetensi yang harus dimiliki siswa, maka perlu adanya suatu strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai target tersebut.
Bermain peran bukanlah suatu strategi pembelajaran baru, tetapi strategi ini hanya sering digunakan untuk matapelajaran pengetahu an sosial atau bahasa. Sedangkan untuk mata pelajaran sain biasanya guru hanya berpikir strategi eksperimen dalam mengembangkan kompetensi siswa. Dengan strategi eksperimen
|
guru sering mengalami kendala di lapangan berkaitan dengan ketersediaan alat bantu atau media. Bapak Kholis Hasyim, seorang fasilitator untuk mata pelajaran sains dari MBE di Kabupaten Probolinggo, telah menerapkan strategi bermain peran dalam mata pelajaran sains. Strategi ini terbukti sangat efektif untuk men-gembangkan pemaham-an siswa tentang fenomena alam yang sulit diamati secara langsung.
|
Siswa memerankan rotasi dan revolusi bumi dan bulan terhadap matahari
|
Gambar di sebelah atas memperlihatkan siswa bermain peran untuk memunculkan pemahaman mereka terhadap fenomena alam rotasi dan revolusi bumi dan bulan. Bermain peran juga dapat dikembangkan untuk fenomena alam lainnya seperti proses mendengar pada manusia.
Dalam bermain peran tentang proses mendengar pada manusia setiap siswa memainkan peran dari masing-masing fungsi organ pendengaran. Dengan cara pembelajaran seperti ini siswa dapat merasakan dan memahami bagaimana proses suatu sinyal dari luar dapat didengar oleh manusia.
|
Siswa memerankan proses pendengaran yang terjadi pada manusia dengan masing-masing siswa memainkan setiap fungsi organ
|
Balai Paguyuban di Blitar
SDN Bajang 2 Blitar sudah membangun Balai Paguyuban untuk orang tua siswa. Pada gambar nampak Kepala Cabang Dinas, Bpk Supardi, di foto di depan balai tersebut bersama Pengawas Sekolah, Ibu Endang.
Hasil karya siswa di setiap kelas sudah menunjukkan ciri-ciri PAKEM. Di sebelah kanan, Muji, siswa kelas 6 SDN Bajang 2 Blitar menunjukkan pidato yang ditulisnya dan dipajangkan. Setiap siswa mempunyai tempat pajangan sendiri.
|