Managing Basic Education MBE Project Online Supported by USAID
 


ENGLISH LANGUAGE

Ayo, mari kita mendukung Proyek Managing Basic Education

Siswa Kelas 4 Berkunjung ke Makam Bung Karno

Oleh Bpk Sarmin, Guru Kelas 4 SD Babadan 1

MBE dengan model PAKEMnya jalan terus! Banyak perubahan pada SD Babadan 01 Wlingi Blitar setelah kehadiran MBE dengan PAKEMnya. Sekolah kami betul-betul merasakan manfaatnya. Terbukti anak-anak berfikir lebih mandiri dan kreatif. Pada bulan April 2005, siswa-siswa kelas IV sebanyak 126 anak melakukan study tour ke Candi Kotes, Candi Penataran, Makam Bung Karno, Kebun Binatang Mini dan Museum Bung Karno.

Mengunjungi Candi Penataran

Dengan dipandu guru-guru kelas IV dan beberapa wali murid siswa-siswa mengunjungi peninggalan sejarah sebagai sumber belajar mata pelajaran IPS. Anak-anak senang sekali. Bersama teman-temannya mereka mencatat dengan seksama informasi dari pemandu.

Setelah itu anak-anak membuat laporan yang ternyata hasilnya luar biasa bagus. Setiap anak menulis laporan tentang kunjungan tersebut yang diketik dengan komputer. (Kanan) Wilden membacakan laporannya. Di bawah tulisannya tentang makam Bung Karno. Itulah perubahan pendidikan pada SD Babadan 01 setelah hadirnya MBE dengan PAKEM-nya dan semoga terus maju.

Tulisan Wilden

Ibu Srianah, fasilitator Blitar untuk kelas awal, yang pernah juga melatih guru di luar daerahnya, adalah guru kelas 3 di SD Babadan 1. Kelasnya sangat menarik dan menunjukkan kreatifitas anak, diantanya banyak hasil karya anak yang bermutu. Di sebelah kanan nampak Cakra memegang topi yang dibuat untuk seni tayup.

Motivasi anak untuk belajar di SD Beru 1 sangat tinggi. Pada saat istirahat, anak-anak kelas 2 – difoto kanan bersama gurunya Ibu Endang Harijati – masih bekerja di kelas.

Multi-Grade di Pacitan

Tim Pemetaan telah bekerja secara intensif melakukan pendataan invetarisasi sekolah, analisa data, dan menemukan, antara lain: pendistribusian guru yang tidak merata dan ketidakseimbangan antara jumlah guru dengan jumlah siswa di beberapa sekolah. Sebagai contoh, satu sekolah dengan guru sebanyak 7 orang memiliki siswa 37 anak. Hal ini tidak efisien. Banyak sekolah lain memiliki kasus yang serupa sementara di kecamatan yang lain terjadi kekurangan tenaga guru.

Berdasarkan temuan-temuan dalam pemetaan, tim berupaya meningkatkan mutu, efektifitas, dan efisiensi pendidikan. Salah satu rekomendasi penting yang yang diharapkan menjadi kebijakan Pemda adalah regrouping dan multigrade (pembelajaran kelas rangkap) karena kebijakan ini akan mampu menghemat keuangan Pemda dan mendistribusikan guru secara proporsional. Dalam model pembelajaran yang dulu disebut SD kecil ini satu guru mengajar 2 kelas. Satu sekolah hanya memerlukan 3 guru 1 kepala sekolah dan tenaga administrasi yang lain.

Upaya Tim Pemetaan Kabupaten ini tidak sia-sia. Tahun ini keluarlah Surat Keputusan Bupati Nomor 100 Tahun 2005 tertanggal 13 Juli Tahun 2005 tentang ’Penggabungan dan Perubahan Status Sekolah Dasar’ . Adapun sekolah yang digabung meliputi 14 sekolah. Sementara sekolah yang berubah status dari SD konvensional menjadi sekolah kelas rangkap (multi grade) berjumlah 36 sekolah yang tersebar di dua belas kecamatan.

Sekolah - sekolah yang diubah statusnya ini telah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Jumlah murid kecil
  • Jarak sekolah tersebut dengan sekolah yang lain jauh
  • Sarana transportasi sulit

SDN Arjowinangun 1 dan 2 yang digabung menjadi satu

Dengan keputusan diatas maka institusi terkait harus segera melakukan distribusi guru dari sekolah yang direorganisasi (regroup) dan kelas rangkap pada sekolah lain. Ini bukan hal yang mudah dan sangat mungkin mendapat hambatan dari pihak yang merasa dirugikan. Akan tetapi dengan kajian obyektif demi kepentingan pendidikan itu sediri hal itu memang layak dilakukan.

Sebagai upaya memperlancar pelaksanaan kebijakan pembelajaran kelas rangkap, Dinas Pendidikan bekerja sama dengan RTI melalui program MBE akan mengadakan pelatihan guru kelas rangkap dan pengadaan modul-modul sebagai penunjang. Pelatihan pertama akan dilaksanakan pada tangal 1 s.d 4 Agustus 2005 dengan melibatkan unsur guru, Kepala Sekolah dan Komite Sekolah. Dinas Pendidikan juga merencanakan insentif bagi pengajar di sekolah – sekolah yang bersangkutan.

RTI INTERNATIONAL Managing Basic Education (MBE) USAID